10 Bulan Perang Israel-Palestina, Jumlah Korban Tewas di Gaza Capai 40.000 Jiwa

Warga Palestina yang tinggal di al-Mawasi, sebuah distrik di sebelah barat Kota Gaza, pindah setelah adanya peringatan evakuasi dari Israel. Foto: Habboub Ramez/Abaca/Rex/Shutterstock

“Jika bukan karena perang, dia tidak akan meninggalkan kami secepat ini. Dia bahkan belum berusia 60 tahun, lehilangannya sangat memengaruhi kami. Dia adalah ikatan di hati keluarga kami, dan akan melakukan apa pun yang kami butuhkan,” katanya.

“Saya yakin ada ribuan orang lain seperti ayah saya, yang tidak diketahui siapa pun dan tidak tercantum di antara korban perang,” kata Rania. 

Jangan hanya menganggap mereka sebagai angka. Mereka punya kehidupan yang harus dijalani, mereka punya keluarga dan teman, tetapi mereka pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Pejabat Israel mempertanyakan jumlah korban tewas yang diberikan oleh pihak berwenang di Gaza. Mereka berpendapat bahwa karena Hamas mengendalikan pemerintahan di sana, pejabat kesehatannya tidak dapat memberikan angka yang kredibel, tetapi para dokter dan pegawai negeri yang menjalankan rumah sakit dan sistem kesehatan memiliki catatan yang kredibel dari perang-perang sebelumnya di Gaza.

Setelah beberapa konflik antara tahun 2009 dan 2021, penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa menyusun daftar korban tewas mereka sendiri dan menemukan bahwa daftar tersebut sangat cocok dengan yang berasal dari Gaza.

“Sayangnya, kami memiliki pengalaman menyedihkan karena harus berkoordinasi dengan kementerian kesehatan mengenai jumlah korban setiap beberapa tahun. Angka-angka mereka terbukti secara umum akurat, kata Farhan Haq, juru bicara sekretaris jenderal PBB. 

Jumlah korban tewas secara keseluruhan dari Gaza tidak dibagi antara kombatan dan warga sipil, tetapi pada pertengahan Agustus, 32.280 jenazah korban konflik telah diidentifikasi namanya.

Sebagian besar dianggap warga sipil karena usia atau jenis kelamin mereka, dengan 10.627 anak-anak, 5.956 wanita, dan 2.770 orang lanjut usia. Warga sipil lainnya yang dihitung termasuk 168 wartawan, 855 staf medis, dan 79 paramedis. Jumlah ini lebih dari 20.000 warga sipil dan tidak termasuk banyak pria sipil usia produktif yang telah terbunuh.

Israel tidak memperkirakan korban sipil di Gaza, tetapi militer mengatakan telah menewaskan sekitar 15.000 pejuang. Israel melancarkan perang setelah serangan Hamas lintas perbatasan pada 7 Oktober menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil. 250 lainnya dibawa ke Gaza sebagai sandera.

Laju kematian di Gaza sedikit melambat tahun ini dibandingkan dengan tahun 2023. Serangan Israel menewaskan lebih dari 22.000 orang hingga 31 Desember, menurut pejabat kesehatan, lebih tinggi dari jumlah korban pada tahun 2024 hingga saat ini.

Meski begitu, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun antara Israel dan Palestina, dan secara historis sangat tinggi. Bom-bom besar jatuh setiap hari, sering kali menewaskan puluhan orang. Pada hari Sabtu, sebuah serangan udara menghantam sebuah sekolah yang diubah menjadi tempat perlindungan.

Mereka yang ditinggalkan oleh setiap serangan harus menghadapi bukan hanya kesedihan mereka, tetapi juga trauma karena hidup dalam bayang-bayang kematian dan ancaman serangan berikutnya yang terus-menerus.

Pada bulan November, sebuah serangan udara menghancurkan gedung apartemen Ali Abbas, menewaskan dua anaknya, Fatima, 17 tahun, dan Omar, lima tahun, saudara laki-lakinya, dan dua keponakannya, salah satunya baru berusia 20 hari. Tidak ada perintah atau peringatan evakuasi.

Abbas mengalami luka yang sangat parah sehingga ia menghabiskan dua minggu di ruang perawatan intensif, awalnya ia tidak mengetahui berita tentang kematian anak-anaknya. Ketika ia diberi tahu, ia mencoba melepaskan semua selang yang membuatnya tetap hidup. Keluarganya yang tersisa kini tinggal di tenda.

“Saya selalu berkata bahwa kami harus tinggal di rumah ibu saya. Namun, anak saya menolak karena ia memiliki fobia terhadap bangunan dan tembok, dan ia takut gelap karena bangunan itu runtuh menimpa kami ketika dibom, dan orang-orang harus menariknya keluar dari bawah reruntuhan.

“Saya terbangun karena teriakannya. Ia biasanya bermimpi buruk bahwa ia masih berada di bawah reruntuhan dan ia memohon: ‘Tolong saya, tolong keluarkan saya, kumohon!,” ucapnya. (Guardian)

Exit mobile version