BANDA ACEH – Bunyi sirine yang meraung setiap 26 Desember di Tanah Rencong bukan sekadar pengingat akan amuk samudra dua dekade silam. Ia adalah lonceng kesadaran kolektif bagi sebuah bangsa yang pernah luluh lantak, namun memilih bangkit kembali dengan martabat. Di tengah hujan yang membawa kabar banjir di sejumlah wilayah Aceh hari ini, peringatan 21 tahun tsunami menjadi momentum penting untuk menakar sejauh mana kita telah melangkah dan sedalam apa kita saling menjaga. Dua puluh satu tahun berlalu, Aceh tidak hanya dikenang karena lukanya, tetapi juga karena kemampuannya bangkit, belajar, dan menata masa depan dengan keteguhan yang lebih matang.
Aceh bukan sekadar titik koordinat di ujung barat Nusantara, melainkan simbol ketangguhan yang diakui dunia. Namun, perjalanan pascarekonstruksi tidak pernah sederhana. Tantangan kini bergeser dari puing bangunan menuju penguatan ketahanan ekonomi dan sosial. Dalam dinamika yang kerap memanas, kemampuan menahan diri dari narasi yang memecah belah menjadi modal utama agar energi kolektif tidak habis pada konflik yang kontraproduktif.
Muhasabah hari ini melampaui ritual peringatan semata. Ia menuntut kejujuran bersama: evaluasi bagi pemerintah dalam melayani, serta kerendahan hati bagi masyarakat untuk terus mengawal perbaikan. Membangun Aceh tidak dapat dilakukan dengan saling menyalahkan, melainkan dengan tangan yang saling menggenggam. Inilah persimpangan penting untuk membuktikan bahwa Aceh mampu mengelola takdirnya dengan kearifan.
Tokoh muda Aceh, Wanda Assyura, menilai kekuatan sejati Aceh terletak pada kohesi sosial yang telah teruji oleh sejarah.
“Aceh adalah bangsa besar dengan jejak kegemilangan yang panjang. Saatnya kita bergerak menuju kemandirian jiwa dan ekonomi agar benar-benar berdaya di kaki sendiri. Mari kita kawal setiap inci perbaikan dengan semangat saling percaya, saling menjaga, dan saling menguatkan demi masa depan yang lebih cerah,” ujarnya kepada awak media, Jumat (26/12/2025).
Transparansi pembangunan, menurutnya, menjadi prasyarat mutlak agar kepercayaan publik tidak tergerus oleh kecurigaan. Pemerintah daerah perlu memastikan setiap kebijakan berpihak pada keselamatan dan kesejahteraan warga, terutama dalam menghadapi ancaman bencana yang masih berulang. Banjir yang terjadi di sejumlah kabupaten hari-hari ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah proses yang tidak pernah selesai. Sistem yang kuat penting, tetapi persatuan jauh lebih menentukan.
