JAKARTA — Kerusuhan pasca-pengeroyokan dua debt collector di Kalibata, Jakarta Selatan, kembali membuka borok penegakan keamanan di ibu kota. Satu tewas, satu luka, delapan kios hangus, enam motor jadi arang, dan kerugian Rp273 juta tercatat. Tetapi yang rusak paling parah bukan sekadar bangunan, melainkan citra “Jaga Jakarta” milik Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri. Program yang dikampanyekan bak mantra penyelamat sejak Agustus itu rupanya hanya megah di baliho, bukan di lapangan.
Kerusuhan memuncak Kamis malam (11/12). Usai Maghrib, sekelompok massa diduga rekan korban mateldatang membabi buta ke Jalan H. Mahmud Raya, Duren Tiga, Pancoran. Warung dirusak, kendaraan dibakar, kawasan dibuat kacau. Kapolres Jaksel Kombes Nicolas Ary Lilipaly bilang polisi “datang setelah terima laporan”, seakan aparat hanya tamu undangan terakhir setiap kerusuhan. Gulkarmat menurunkan enam unit pompa dan 49 personel, tetapi api terlanjur memakan rezim “ketertiban” yang diagungkan.
Ini bukan kasus tunggal; ini pola. Debt collector dikeroyok → massa balas dendam → warga jadi korban. Siklus brutal yang seharusnya diputus jika “Jaga Jakarta” benar-benar dijalankan sebagai sistem, bukan slogan. Irjen Asep sejak 25 Agustus 2025 menjanjikan keamanan kolaboratif: satpam, satkamling, ojol, hingga ormas digandeng. Namun saat kerusuhan benar-benar meletus, siapa yang muncul? Hanya warga yang panik dan aparat yang datang terlambat. Program megah, kakinya rapuh. “Ini bukti manajemen keamanan yang tidak sinkron antara konsep dan eksekusi,” ujar Azhari, Direktur LBH Komunitas Cinta Bangsa (KCB), dalam pernyataannya Jumat, (12/12/2025).
Ironinya kental: ormas diajak “jaga Jakarta”, tetapi tak satu pun muncul saat Jakarta benar-benar terancam terbakar. Antara melaporkan sejak November bahwa ahli sudah mengingatkan program ini bisa memicu vigilante dan kini kekhawatiran itu menjadi realita. Data internal yang beredar mencatat kekerasan jalanan di Jaksel naik 15 persen sejak program diluncurkan. Polda Metro bicara humanis, tetapi yang humanis hanya pidatonya, bukan respons cepatnya.
