Namun, klarifikasi tersebut tidak serta-merta meredam kritik. Publik menilai alasan “tidak mengenal” tidak cukup kuat untuk menutup persepsi adanya kedekatan antara pejabat negara dengan sosok bermasalah di sektor kehutanan.
Aktivis lingkungan juga menyoroti bahwa kasus pembalakan liar yang merugikan negara triliunan rupiah tidak bisa dianggap sepele. “Simbol publik itu penting. Duduk satu meja dengan pemain domino yang ternyata eks tersangka pembalak liar adalah tamparan bagi komitmen pemberantasan mafia hutan,” ujar salah satu pegiat lingkungan.
Kini, sorotan publik tertuju pada konsistensi Raja Juli dalam menegakkan hukum. Apakah komitmennya benar-benar sekeras ucapannya, atau justru rapuh ketika berhadapan dengan pusaran kekuasaan dan jejaring lama pelaku pembalakan liar.
