Setelah Efisiensi, Defisit Ikutan Melebar: Terus Buat Apa Efisiensi ?

Menteri Keuangan Sri Mulyani

Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, dengan wajah penuh welas asih menyebut ini sebagai langkah countercyclical. Artinya, negara ini sedang menyelamatkan rakyat dari krisis. Caranya? Tambah utang. Genius.

Tapi Josua juga khawatir. Katanya, utang terus-terusan bisa bikin investor ilfil. Apalagi kalau bunga SBN makin tipis dan mereka lebih suka deposito. Pemerintah? Bisa jadi harus naikin bunga lagi biar surat utangnya laku. Lama-lama bisa jadi Surat Tidak Laku Negara.

Ekonom CELIOS, Nailul Huda, menyebutkan bunga utang kita sudah nyaris Rp 500 triliun. Lebih besar dari anggaran buat kesehatan dan sosial digabung. Tapi kan itu demi membangun bangsa… membangun utang bangsa.

Nailul khawatir ruang fiskal makin sempit. Tapi tidak usah cemas. Selama masih ada printer SBN dan istilah-istilah keren seperti fiskal ekspansifcountercyclical, atau penyesuaian struktural, semuanya bisa terdengar positif.

Solusi jangka panjang? Harusnya sih dari pajak. Tapi menaikkan tarif di tengah ekonomi lemas seperti menagih utang ke orang sakit. Jadi ya sudah, putar terus lagu lama: “Gali Lubang, Tutup Lubang”, versi simfoni APBN.

Toh selama rakyat masih percaya dan DPR masih setuju, fiskal kita tetap “terkendali”. Walau seperti rumah yang hampir roboh, kita tetap bisa selfie di depannya, sambil bilang: “Mantap. Defisit naik, tapi tetap efisien.”

Exit mobile version