Di sisi lain, peran Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Sultra memperkuat dimensi edukasi. Booth literasi menghadirkan sosialisasi QRIS, program Cinta Bangga Paham Rupiah, edukasi ekonomi dan keuangan syariah, hingga pojok halal dan wakaf. Layanan penukaran uang melalui mobil kas keliling juga memudahkan masyarakat menjelang Idulfitri. Festival ini, dengan demikian, bukan sekadar tempat ngabuburit, tetapi juga ruang pembelajaran publik tentang sistem keuangan modern.
Dimensi sosial pun tidak diabaikan. Penyaluran 50 paket makanan gratis setiap hari serta santunan kepada para penghafal Al-Qur’an menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring empati. Ramadan adalah bulan berbagi, dan festival ini mencoba menerjemahkan nilai itu dalam tindakan nyata.
Kolaborasi dengan Asosiasi Pengusaha Kuliner Indonesia (Apkulindo) Sultra semakin memperkuat kualitas dan jaringan pelaku usaha. UMKM tidak hanya diberi ruang berjualan, tetapi juga peluang membangun branding, memperluas relasi, dan meningkatkan daya saing. Inilah bentuk multiplier effect yang diharapkan: transaksi harian yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi lokal dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, Ramadan Sultra Fest 2026 adalah cerminan bagaimana momentum keagamaan dapat dikelola menjadi strategi pembangunan ekonomi daerah. Ia mempertemukan spiritualitas Ramadan, pemberdayaan ekonomi rakyat, dan transformasi digital dalam satu ruang yang sama. Jika konsistensi kolaborasi ini terus dijaga, bukan tidak mungkin festival ini menjadi agenda tahunan unggulan yang bukan hanya dinanti, tetapi juga dirasakan manfaatnya secara luas.
Dari tenda-tenda UMKM yang sederhana, dari transaksi kecil yang terus bertumbuh, dari anak-anak yang belajar melantunkan adzan, hingga dari paket makanan yang dibagikan dengan tulusdi sanalah pembangunan menemukan maknanya. Tidak selalu dengan proyek besar, tetapi melalui kebersamaan yang dirawat dan kolaborasi yang dijaga.
