Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah grup GAY Koltim tersebut masih aktif menjalankan kegiatan offline atau hanya sebatas komunitas maya yang tidak berkembang. Sejumlah pihak mendesak pemerintah daerah, khususnya dinas terkait seperti Dinas Sosial dan Kesbangpol, untuk menelusuri keberadaan dan dampak dari komunitas ini di lapangan.
Aktivis perlindungan anak dan tokoh pemuda di Sultra juga mendesak Pemerintah Sulawesi Tenggara khususnya Kabupaten Kolaka Timur untuk tidak mengabaikan isu ini.
“Ini soal ruang publik dan potensi pengaruh terhadap generasi muda. Kita bukan bicara kebencian, tapi soal edukasi dan perlindungan nilai-nilai lokal. Perlu ada kejelasan dari pemerintah,” ujarnya
